Domain artinya nama alamat sebuah website di internet, misalnya namausaha.com atau namausaha.co.id. Nama ini ada supaya orang tidak perlu menghafal alamat IP, yaitu deretan angka yang sebenarnya dipakai komputer untuk menemukan server. Saat seseorang mengetik nama domain di browser, sistem bernama DNS menerjemahkannya menjadi alamat IP, lalu browser menghubungi server yang menyimpan website itu.
Kata domain sendiri berarti wilayah atau ranah, yaitu lingkup tempat sesuatu berlaku. Di pelajaran matematika, domain adalah himpunan nilai asal sebuah fungsi, dan itu arti yang sama sekali berbeda. Artikel ini membahas domain dalam arti nama alamat website: bagian-bagiannya, jenisnya, siapa yang mengaturnya, bedanya dengan hosting, dan cara memilihnya untuk usaha. Kalau Anda ingin gambaran domain dan hosting sekaligus dalam bahasa sederhana, baca juga apa itu hosting dan domain.
Domain artinya alamat, dan kenapa alamat itu dibutuhkan
Setiap perangkat yang terhubung ke internet, termasuk server tempat website disimpan, punya alamat IP. Alamat ini berupa angka, misalnya empat kelompok angka yang dipisahkan titik. Komputer tidak kesulitan dengan angka, tetapi manusia jelas kesulitan. Bayangkan harus menghafal deretan angka untuk setiap toko, bank, dan kantor yang ingin Anda kunjungi secara online.
Masalah ini sudah muncul sejak jaringan komputer masih kecil. Menurut Wikipedia, pada era ARPANET setiap komputer memakai satu berkas daftar yang memetakan nama komputer ke alamat angkanya, dan daftar itu dikelola terpusat. Jaringan tumbuh terlalu cepat untuk cara ini, sehingga pada 1983 diperkenalkan Domain Name System (DNS) lewat dokumen RFC 882 dan RFC 883. DNS memecah tugas penerjemahan nama ke banyak server secara berjenjang, dan sistem itulah yang masih dipakai sampai sekarang.
Domain komersial pertama di bawah .com, yaitu symbolics.com, didaftarkan pada 15 Maret 1985. Sejak itu jumlahnya terus bertambah. Wikipedia mencatat ada 359,8 juta nama domain terdaftar per 31 Desember 2023.
Bagi pemilik usaha, domain adalah identitas yang dicetak di kartu nama, spanduk, kemasan, dan alamat email. Karena itu, domain adalah bagian website yang paling sulit diganti. Desain bisa diperbarui dan hosting bisa dipindah tanpa pelanggan sadar, tetapi mengganti domain berarti mengganti alamat yang sudah tersebar di mana-mana.
Bagian-bagian nama domain
Nama domain terdiri dari beberapa bagian yang dipisahkan titik. Wikipedia menyebut setiap bagian ini sebagai label, dan hierarkinya dibaca dari kanan ke kiri. Ambil contoh www.tokokue.co.id (contoh).
- Top-level domain (TLD). Label paling kanan, di contoh ini
id. TLD menunjukkan kelompok besar sebuah domain, misalnyacom,org, atau kode negara sepertiiduntuk Indonesia. - Domain tingkat kedua. Label di sebelah kiri TLD. Pada
tokokue.com, namatokokueadalah bagian yang Anda pilih dan daftarkan. Pada domain Indonesia berawalan sepertico.id, labelcomenandai kategori badan usaha, dan nama usaha Anda berada di sebelah kirinya. - Subdomain. Label yang ditambahkan di kiri nama yang didaftarkan, misalnya
www,toko, ataublog. Subdomain dibuat sendiri oleh pemegang domain tanpa mendaftar ulang, dan bisa diarahkan ke server yang berbeda.
Ada beberapa aturan teknis yang perlu diketahui. Menurut Wikipedia, setiap label boleh berisi 1 sampai 63 karakter, dan panjang nama domain lengkap tidak boleh lebih dari 253 karakter. Dalam praktiknya, nama domain berisi huruf, angka, dan tanda hubung, tidak membedakan huruf besar dan kecil, dan tidak boleh memakai spasi. Jadi TokoKue.com dan tokokue.com adalah domain yang sama.
Satu hal yang sering membingungkan adalah beda domain dan URL. Domain hanya nama alamatnya. URL adalah alamat lengkap sebuah halaman, termasuk protokol dan jalurnya, misalnya https://www.tokokue.co.id/menu/kue-kering/ (contoh). Satu domain bisa punya ribuan URL, satu untuk setiap halaman.
Jenis-jenis domain: generik, kode negara, dan turunan .id
Wikipedia menjelaskan bahwa saat DNS dirancang pada 1980-an, ruang nama domain dibagi menjadi dua kelompok utama. Kelompok pertama adalah top-level domain kode negara (ccTLD) yang diambil dari kode dua huruf negara, seperti id untuk Indonesia. Kelompok kedua adalah top-level domain generik (gTLD), yang awalnya tujuh: gov, edu, com, mil, org, net, dan int. Sekarang jumlah gTLD jauh lebih banyak, termasuk ekstensi baru seperti .store atau .online.
Untuk usaha di Indonesia, pilihan yang paling sering dipertimbangkan adalah .com dan keluarga .id. Domain .id dikelola Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI). Sejak 17 Agustus 2014, siapa pun yang memenuhi syarat bisa mendaftarkan domain langsung di bawah .id tanpa awalan, misalnya namausaha.id. Selain itu ada turunan dengan peruntukan khusus seperti tabel berikut, yang diringkas dari Wikipedia bahasa Indonesia.
Tabel ini lebih lebar dari layar. Geser ke samping untuk melihat seluruh kolom.
| Domain | Diperuntukkan bagi | Catatan |
|---|---|---|
| .id | Warga negara Indonesia, warga negara asing, dan badan usaha | Paling fleksibel di keluarga .id |
| .co.id | Badan usaha berbadan hukum yang beroperasi di Indonesia | Dibuktikan dengan dokumen seperti akta atau izin usaha |
| .biz.id | Perorangan atau usaha tingkat UMKM | Pilihan bagi usaha yang belum berbadan hukum |
| .my.id dan .web.id | Perorangan, organisasi, atau entitas lain | Sering dipakai untuk website pribadi dan portofolio |
| .or.id | Organisasi sosial, kemasyarakatan, perkumpulan, dan komunitas | Untuk lembaga nirlaba |
| .sch.id | Lembaga pendidikan dasar dan menengah | Termasuk pendidikan nonformal |
| .ac.id | Lembaga pendidikan tinggi | Butuh izin atau akreditasi pendidikan tinggi |
| .ponpes.id | Lembaga pendidikan berbasis agama | Termasuk pendidikan nonformal |
| .go.id, .mil.id, .desa.id | Instansi pemerintah, militer, dan desa | Syaratnya diatur peraturan tersendiri |
Syarat dokumen bisa berubah, jadi cek ulang di situs resmi pendaftaran domain .id sebelum mendaftar. Untuk sekolah, pertimbangan memakai .sch.id kami bahas di contoh website sekolah. Untuk website pribadi, ekstensi seperti .my.id sering cukup, seperti yang kami singgung di website personal branding.
Domain, hosting, website, URL, dan email: apa bedanya
Istilah-istilah ini sering dipakai bergantian, padahal masing-masing adalah hal yang berbeda dan sering dibayar terpisah. Memahami bedanya mencegah kejutan saat tagihan perpanjangan datang dari beberapa pihak sekaligus.
Tabel ini lebih lebar dari layar. Geser ke samping untuk melihat seluruh kolom.
| Istilah | Artinya | Analogi | Dibayar |
|---|---|---|---|
| Domain | Nama alamat website | Alamat dan nama toko di papan jalan | Tahunan, ke registrar |
| Hosting | Server tempat berkas dan database website disimpan | Ruko yang disewa | Bulanan atau tahunan, ke penyedia hosting |
| Website | Kumpulan halaman yang dilihat pengunjung | Isi dan tata letak toko | Sekali saat dibuat, lalu perawatan |
| URL | Alamat lengkap satu halaman tertentu | Alamat lengkap sampai nomor rak | Tidak dibayar terpisah |
| Email domain | Alamat email yang memakai nama domain Anda | Kotak surat dengan nama toko | Bisa termasuk hosting atau layanan email terpisah |
Hubungan antara domain dan server dijelaskan lebih teknis di web server adalah. Kalau Anda sedang menyusun anggaran, komponen domain dan hosting termasuk biaya rutin yang perlu dihitung sejak awal, seperti kami uraikan di biaya bikin website.
Email domain layak mendapat perhatian khusus. Alamat seperti admin@namausaha.co.id (contoh) terlihat lebih meyakinkan di mata pelanggan daripada alamat email gratisan. Karena email ikut menumpang pada domain, domain yang lupa diperpanjang tidak hanya mematikan website, tetapi juga email usaha Anda.
Siapa yang mengatur domain, dan apakah Anda benar-benar memilikinya
Ada tiga pihak yang perlu dikenal. Menurut Wikipedia, hak menggunakan nama domain didelegasikan oleh registrar, yaitu perusahaan tempat Anda mendaftar domain, yang diakreditasi oleh ICANN, organisasi yang mengawasi sistem nama dan nomor internet. Setiap TLD dikelola secara teknis oleh registry, yang menyimpan database semua nama di TLD tersebut. Untuk .id, registry-nya adalah PANDI.
Pihak ketiga adalah Anda, yang disebut registrant atau pendaftar. Di sinilah salah paham paling sering terjadi. Wikipedia mencatat bahwa transaksi domain sering disebut jual beli dan pendaftar sering disebut pemilik, padahal secara hukum hubungan kepemilikan seperti itu tidak benar-benar ada. Yang Anda pegang adalah hak pakai untuk jangka waktu tertentu, yang harus diperpanjang secara berkala.
Data pendaftar dicatat registry dan bisa dicek publik lewat layanan WHOIS dan penerusnya, RDAP. Wikipedia juga menyebut beberapa kontak yang tercatat pada sebuah domain, antara lain kontak administratif yang biasanya punya kendali tertinggi, kontak teknis yang mengurus name server, dan kontak penagihan. Pastikan kontak administratif adalah usaha Anda sendiri, bukan vendor atau mantan karyawan. Cara mengecek atas nama siapa domain Anda terdaftar kami jelaskan langkah demi langkah di apa itu hosting dan domain.
Siklus hidup domain: daftar, perpanjang, dan kedaluwarsa
Karena domain adalah hak pakai berjangka, setiap domain punya siklus hidup. Memahaminya membantu Anda tidak kehilangan alamat yang sudah bertahun-tahun dipakai.
- Didaftarkan. Anda memilih nama yang masih tersedia, melengkapi data dan dokumen bila diperlukan, lalu membayar untuk satu tahun atau lebih.
- Aktif. Domain diarahkan ke hosting lewat pengaturan DNS, dan website serta email mulai bisa dipakai.
- Diperpanjang. Sebelum masa aktif habis, domain diperpanjang. Banyak registrar menyediakan perpanjangan otomatis; aktifkan bila bisa, dan pastikan metode pembayarannya masih berlaku.
- Kedaluwarsa. Bila tidak diperpanjang, website dan email berhenti bekerja.
- Masa tenggang dan penebusan. Biasanya masih ada kesempatan untuk memperpanjang atau menebus, sering dengan biaya tambahan. Lamanya berbeda per jenis domain dan registrar.
- Dilepas. Setelah masa tenggang lewat, domain bisa didaftarkan siapa pun, termasuk pesaing atau pihak yang ingin menjualnya kembali kepada Anda dengan harga tinggi.
Penyebab domain hilang yang paling sering bukan teknis, melainkan administratif: email pengingat perpanjangan masuk ke alamat yang sudah tidak dibaca, kartu kredit kedaluwarsa, atau domain didaftarkan atas nama vendor yang sudah tidak bisa dihubungi. Catat tanggal kedaluwarsa domain di kalender usaha, dan pastikan email pendaftaran adalah alamat yang dibaca rutin.
Cara memilih nama domain untuk usaha
Nama domain akan Anda pakai bertahun-tahun, jadi beberapa menit berpikir sebelum mendaftar akan terbayar. Berikut patokan yang kami pakai saat membantu klien.
- Pendek dan mudah diucapkan. Uji dengan menyebutkannya lewat telepon. Kalau lawan bicara harus bertanya cara menulisnya, cari alternatif.
- Sama atau dekat dengan nama usaha. Pelanggan yang mencari nama usaha Anda akan menebak domainnya. Domain yang jauh dari nama usaha membuat promosi lebih mahal.
- Hindari angka dan tanda hubung bila bisa. Orang sering lupa apakah angkanya ditulis sebagai angka atau huruf, dan sering lupa tanda hubungnya.
- Pilih ekstensi sesuai pasar. Untuk badan usaha di Indonesia,
.co.idmemberi kesan resmi karena syaratnya ketat. Untuk pasar yang lebih luas,.compaling dikenal. Untuk usaha yang belum berbadan hukum,.idatau.biz.idbisa jadi pilihan. - Pertimbangkan mendaftarkan variasi. Bila anggaran memungkinkan, daftarkan juga variasi ekstensi utama dan arahkan ke domain utama, supaya tidak dipakai pihak lain.
- Cek merek dan media sosial. Pastikan nama itu tidak dipakai merek lain yang mirip, dan idealnya nama akun media sosialnya juga tersedia.
- Daftarkan atas nama usaha Anda. Ini yang terpenting. Akun registrar, email pendaftaran, dan kontak administratif harus milik usaha Anda.
Setelah domain siap, langkah berikutnya adalah membangun websitenya. Urutan lengkapnya ada di cara bikin website, dan contoh struktur halaman untuk usaha ada di contoh website company profile. Kalau website Anda akan memakai WordPress, pahami juga WordPress adalah dan cara memilih plugin WordPress yang aman. Sebelum website diumumkan, pastikan versi dengan dan tanpa www mengarah ke satu alamat yang sama, seperti tercantum di checklist website siap SEO.
Kesimpulan
Domain artinya nama alamat website yang mudah diingat manusia, yang diterjemahkan DNS menjadi alamat IP server. Nama domain dibaca dari kanan ke kiri: top-level domain seperti .com atau .id, nama yang Anda daftarkan, lalu subdomain yang bisa Anda buat sendiri. Untuk Indonesia, keluarga .id dikelola PANDI dan punya turunan dengan peruntukan khusus, seperti .co.id untuk badan usaha dan .sch.id untuk sekolah.
Domain bukan barang yang dibeli sekali untuk selamanya, melainkan hak pakai yang harus diperpanjang. Pilih nama yang pendek dan dekat dengan nama usaha, pilih ekstensi sesuai pasar, dan yang paling penting, pastikan pendaftarannya atas nama usaha Anda sendiri.
Kalau Anda sedang menyiapkan website dan ingin domainnya aman sejak awal, ceritakan nama usaha dan target pelanggan Anda lewat WhatsApp kami (membuka WhatsApp di tab baru). Layanan kami untuk website company profile selalu mendaftarkan domain atas nama klien.
Sumber
- Wikipedia, Domain name (tab baru), untuk label dan hierarki domain, batas 63 dan 253 karakter, pembagian ccTLD dan tujuh gTLD awal, peran registrar, registry, ICANN, WHOIS dan RDAP, kontak domain, sejarah DNS 1983, symbolics.com 15 Maret 1985, dan 359,8 juta domain per 31 Desember 2023.
- Wikipedia bahasa Indonesia, .id (tab baru), untuk PANDI sebagai pengelola, turunan domain .id beserta peruntukannya, dan pembukaan pendaftaran langsung di bawah .id pada 17 Agustus 2014.
- Wikipedia, Top-level domain (tab baru), untuk jenis-jenis top-level domain.
- PANDI (tab baru), pengelola nama domain internet Indonesia, untuk informasi resmi pendaftaran domain .id.



