Lewati ke konten

Teknis

Web 3 adalah: pengertian Web3, bedanya dengan Web 1.0 dan 2.0, komponen, dan apakah usaha Anda membutuhkannya

Web 3 adalah gagasan internet berbasis blockchain yang menekankan kepemilikan pengguna. Pelajari bedanya dengan Web 1.0 dan 2.0, komponen, risiko, dan aturannya di Indonesia.

21 Oktober 2026 Tim Jasa Pembuatan Website Indonesia 10 menit baca
Ilustrasi vektor datar tiga tahap web dari kiri ke kanan: kartu halaman web statis, jendela browser dengan gelembung obrolan dan ikon berbagi, lalu jaringan kubus yang saling terhubung rantai dengan kunci dan dompet di sampingnya

Web 3 adalah gagasan tentang generasi internet berikutnya yang memakai blockchain, aset kripto, dan token untuk memberi pengguna kepemilikan atas data dan aset digitalnya. Ethereum.org, situs resmi komunitas Ethereum, merangkumnya dalam satu kalimat: Web1 untuk membaca, Web2 untuk membaca dan menulis, Web3 untuk membaca, menulis, dan memiliki.

Istilah ini sering muncul bersama kata kripto, NFT, dan metaverse, sehingga banyak pemilik usaha bertanya: apakah website saya harus ikut Web3? Artikel ini menjelaskan pengertian Web3 dengan bahasa sederhana, perbedaannya dengan Web 1.0 dan Web 2.0, komponen yang membentuknya, kelebihan dan keterbatasannya, aturan di Indonesia, serta cara menilai apakah usaha Anda memang membutuhkannya. Artikel ini bersifat edukasi dan bukan ajakan berinvestasi.

Pengertian Web3

Halaman Introduction to Web3 di ethereum.org menyebut Web3 sebagai istilah payung untuk visi internet yang baru. Intinya, Web3 memakai blockchain, mata uang kripto, dan NFT untuk mengembalikan kekuasaan kepada pengguna dalam bentuk kepemilikan. Sebagai pembanding, di internet yang kita pakai sekarang, sebagian besar layanan bergantung pada segelintir perusahaan yang menyimpan data dan memegang aturan main.

Tangkapan layar halaman Introduction to Web3 di ethereum.org dengan paragraf pembuka tentang sentralisasi web dan Web3 sebagai jawabannya, serta daftar isi On this page berisi Web 1.0 Read-Only, Web 2.0 Read-Write, Web 3.0 Read-Write-Own, Core ideas of Web3, dan Web3 limitations
Halaman Introduction to Web3 di ethereum.org membagi sejarah web menjadi tiga babak dan mencantumkan keterbatasan Web3 sendiri. Tangkapan layar: ethereum.org (tab baru), diambil 21 Oktober 2026 untuk keperluan ulasan.

Ethereum.org mencatat bahwa gagasan "Web 3.0" dalam pengertian ini dicetuskan oleh salah satu pendiri Ethereum, Gavin Wood, tidak lama setelah Ethereum diluncurkan pada 2014. Masalah yang ingin dijawab: web saat ini menuntut terlalu banyak kepercayaan kepada perusahaan swasta untuk bertindak demi kepentingan publik.

Perlu dicatat, istilah "Web 3.0" juga pernah dipakai untuk gagasan lain, yaitu web semantik yang membuat data di web lebih mudah dipahami mesin. Saat orang Indonesia mencari "web 3 adalah", yang dimaksud hampir selalu Web3 versi blockchain, dan itulah yang dibahas di artikel ini. Kalau Anda ingin memahami dasar website lebih dulu, baca website adalah.

Perbedaan Web 1.0, Web 2.0, dan Web3

Ethereum.org membagi perjalanan web menjadi tiga babak. Pembagian tahun ini bersifat perkiraan, tetapi membantu memahami apa yang sebenarnya berubah.

Diagram tiga kartu berjudul Tiga babak web menurut ethereum.org: Web 1.0 read-only kurang lebih 1990 sampai 2004, Web 2.0 read-write sejak 2004, dan Web3 read-write-own gagasan sejak 2014 yang disorot hijau
Ilustrasi konsep: tiga babak web menurut pembagian ethereum.org, dari membaca, menulis, sampai ikut memiliki.

Tabel ini lebih lebar dari layar. Geser ke samping untuk melihat seluruh kolom.

Perbandingan Web 1.0, Web 2.0, dan Web3 menurut ethereum.org
AspekWeb 1.0Web 2.0Web3
Periode (perkiraan)1990 sampai 2004Sejak 2004Gagasan sejak 2014
Peran penggunaMembacaMembaca dan menulisMembaca, menulis, memiliki
Bentuk khasWebsite statis milik perusahaanMedia sosial, konten buatan penggunaAplikasi di atas blockchain
Pemegang data dan nilaiPemilik websitePlatform besarDibagi ke pengguna lewat token
Model pendapatan umumInformasi dan katalogIklanToken dan transaksi di blockchain

Dari tabel itu terlihat bahwa perbedaan terbesar Web3 bukan pada tampilan, melainkan pada siapa yang memegang data dan aset. Bagi pengunjung, sebuah aplikasi Web3 tetap dibuka di browser dan bisa terlihat mirip website biasa.

Prinsip dasar Web3

Ethereum.org menyebut definisi Web3 sulit dibuat kaku, tetapi ada empat prinsip yang memandu pembangunannya:

  1. Terdesentralisasi. Kepemilikan tidak dipegang satu entitas, melainkan tersebar di antara pembangun dan pengguna.
  2. Tanpa izin (permissionless). Semua orang punya akses yang sama untuk ikut serta.
  3. Pembayaran bawaan. Memakai mata uang kripto untuk membayar dan mengirim uang secara online, tanpa bergantung pada infrastruktur bank dan pemroses pembayaran.
  4. Tanpa perlu percaya pihak ketiga (trustless). Berjalan dengan insentif dan mekanisme ekonomi, bukan dengan mengandalkan perantara tepercaya.

Prinsip ini adalah klaim dari pihak yang membangun Web3. Dalam praktik, banyak layanan Web3 masih memakai perantara, misalnya bursa kripto terpusat atau penyedia dompet. Karena itu, cara paling sehat membaca prinsip di atas adalah sebagai tujuan, bukan kondisi yang sudah tercapai sepenuhnya.

Komponen Web3

Untuk memahami cara kerja Web3, bayangkan sebuah aplikasi yang terdiri dari beberapa lapisan. Masing masing punya padanan di website biasa yang mungkin sudah Anda kenal.

Diagram lima kartu berjudul Komponen yang membentuk aplikasi Web3: blockchain sebagai fondasi, smart contract sebagai aturan, dompet kripto sebagai identitas yang disorot hijau, token sebagai nilai, dan dApp sebagai tampilan
Ilustrasi konsep: lima komponen yang membentuk aplikasi Web3, dari fondasi blockchain sampai tampilan dApp di browser.
  • Blockchain berperan sebagai basis data bersama. Catatannya disalin oleh banyak komputer, sehingga sulit diubah sepihak. Di website biasa, peran ini dipegang basis data di web server milik satu pihak.
  • Smart contract adalah program yang disimpan di blockchain. Ethereum.org menyebutnya program dengan logika "jika ini maka itu" yang dijamin berjalan sesuai kodenya dan tidak bisa diubah setelah dibuat.
  • Dompet kripto berfungsi sebagai identitas. Alih alih email dan kata sandi, pengguna masuk memakai alamat dompet dan menandatangani transaksi dengan kuncinya.
  • Token mewakili nilai, hak suara, atau bukti kepemilikan, misalnya barang di dalam gim.
  • dApp (aplikasi terdesentralisasi) adalah antarmuka yang dilihat pengguna. Bentuknya tetap halaman web yang dibangun dengan HTML, CSS, dan JavaScript, lalu terhubung ke smart contract.
Tangkapan layar halaman Introduction to smart contracts di ethereum.org yang mendefinisikan smart contract sebagai program komputer di blockchain dengan logika if this then that, menyebut Nick Szabo mencetuskan istilahnya pada 1994, dan daftar isi berisi A digital vending machine dan Smart contract use cases
Halaman Introduction to smart contracts di ethereum.org menjelaskan smart contract sebagai program di blockchain yang berjalan sesuai aturan kodenya. Tangkapan layar: ethereum.org (tab baru), diambil 21 Oktober 2026 untuk keperluan ulasan.

Ethereum.org memberi perumpamaan yang mudah dipahami: smart contract mirip mesin penjual otomatis digital. Masukkan uang yang cukup dan pilih barang, maka mesin mengeluarkan barang itu tanpa perlu penjaga. Istilah smart contract sendiri dicetuskan Nick Szabo pada 1994. Bagi yang ingin tahu bagaimana aplikasi web biasa bertukar data, artikel web service adalah bisa menjadi pembanding.

Kelebihan yang dijanjikan Web3

Ethereum.org menyebut beberapa alasan mengapa Web3 dianggap penting. Berikut ringkasannya dengan contoh yang mereka berikan.

  • Kepemilikan aset digital. Di gim Web2, barang yang Anda beli terikat ke akun. Kalau akun dihapus, barang ikut hilang. Di Web3, barang itu bisa dimiliki langsung sebagai token dan dijual kembali di pasar terbuka.
  • Tahan sensor. Pembuat konten tidak bergantung pada satu platform yang bisa mengubah aturan sewaktu waktu.
  • Organisasi otonom terdesentralisasi (DAO). Pemegang token bisa memberi suara tentang penggunaan sumber daya, dan kode menjalankan hasil pemungutan suara.
  • Identitas. Alamat Ethereum bisa dipakai sebagai satu login di berbagai platform.
  • Pembayaran bawaan. Uang bisa dikirim langsung di browser tanpa pihak ketiga, yang menurut ethereum.org berguna bagi orang yang tidak punya rekening bank.

Semua manfaat di atas datang dari sumber yang mendukung Web3. Saat menilai klaim seperti ini untuk usaha Anda, selalu tanyakan apakah masalah yang ingin diselesaikan memang ada pada bisnis Anda, atau hanya mengikuti tren.

Keterbatasan dan risiko Web3

Menariknya, ethereum.org sendiri mencantumkan bagian khusus tentang keterbatasan Web3. Ini menunjukkan teknologi ini masih jauh dari matang untuk penggunaan massal.

  1. Biaya transaksi. Ethereum.org mengakui biaya relatif transaksi masih memberatkan bagi banyak orang, terutama di negara berkembang.
  2. Hambatan teknis. Pengguna harus memahami soal keamanan, membaca dokumentasi teknis yang rumit, dan memakai antarmuka yang belum ramah.
  3. Edukasi. Banyak calon pengguna belum memahami cara kerjanya, sehingga rentan salah langkah.
  4. Kunci yang hilang tidak bisa dipulihkan dengan mudah. Karena tidak ada perantara, kehilangan akses dompet bisa berarti kehilangan aset.
  5. Penipuan. Proyek palsu, situs tiruan, dan tautan jebakan banyak memanfaatkan istilah Web3. Selalu periksa alamat situs dengan teliti.

Bagi pemilik usaha, poin kedua paling penting. Kalau pelanggan Anda harus memasang dompet kripto dan memahami biaya transaksi hanya untuk melihat katalog atau memesan, sebagian besar akan pergi. Website yang mudah dipakai tetap lebih bernilai daripada teknologi yang terdengar canggih.

Mitos dan fakta seputar Web3

Karena sering dibicarakan bersama tren investasi, Web3 dikelilingi banyak anggapan keliru. Berikut beberapa yang paling sering kami temui saat berdiskusi dengan pemilik usaha, beserta penjelasannya.

  • Mitos: Web3 akan menggantikan website biasa dalam waktu dekat. Fakta: antarmuka aplikasi Web3 sendiri masih dibangun dengan teknologi web biasa dan dibuka di browser. Ethereum.org juga mengakui adopsi massal masih terhambat biaya dan kemudahan pakai.
  • Mitos: Web3 sama dengan kripto. Fakta: aset kripto adalah salah satu komponen. Web3 juga mencakup smart contract, identitas berbasis dompet, dan tata kelola lewat DAO.
  • Mitos: data di blockchain otomatis rahasia. Fakta: banyak blockchain publik justru bisa dibaca siapa pun. Yang sulit adalah mengubah catatannya, bukan melihatnya.
  • Mitos: smart contract tidak mungkin salah. Fakta: smart contract berjalan persis sesuai kodenya. Kalau kodenya keliru, kesalahan itu ikut berjalan, dan karena kode tidak bisa diubah setelah dibuat, memperbaikinya jauh lebih rumit.
  • Mitos: punya website Web3 membuat usaha terlihat lebih modern dan pasti menarik pelanggan. Fakta: pelanggan menilai dari kemudahan, kecepatan, dan kepercayaan. Teknologi yang menyulitkan mereka justru menurunkan penjualan.

Contoh penerapan yang sering disebut

Ethereum.org menyebut beberapa wilayah penerapan untuk menggambarkan manfaat Web3. Contoh ini berguna untuk memahami konsepnya, meskipun belum tentu relevan bagi usaha Anda.

  1. Gim berbasis blockchain. Barang di dalam gim dimiliki pemain sebagai token, sehingga tetap ada walau pemain berhenti bermain dan bisa dijual kembali.
  2. Organisasi berbasis komunitas (DAO). Anggota pemegang token memberi suara tentang penggunaan dana bersama, lalu hasilnya dijalankan oleh kode.
  3. Login dengan dompet. Fitur seperti Sign-in with Ethereum memungkinkan satu identitas dipakai di banyak aplikasi tanpa membuat akun baru di setiap layanan.
  4. Pembayaran lintas negara. Pengiriman nilai langsung dari dompet ke dompet tanpa perantara bank, dengan catatan aturan setempat tetap berlaku.

Perhatikan bahwa setiap contoh menuntut pengguna memahami dompet dan transaksi. Itulah sebabnya penerapan Web3 paling masuk akal untuk audiens yang memang sudah akrab dengan aset digital, bukan untuk pelanggan umum yang ingin memesan produk atau jasa dengan cepat.

Aturan aset kripto di Indonesia

Web3 tidak bisa dilepaskan dari aset kripto, dan di Indonesia aset kripto diatur. Menurut siaran pers bersama OJK dan Bappebti tertanggal 10 Januari 2025, tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto beralih dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Peralihan itu ditandai penandatanganan Berita Acara Serah Terima dan Nota Kesepahaman.

Tangkapan layar halaman siaran pers OJK berjudul Siaran Pers Bersama: Bappebti Kemendag Alihkan Tugas Pengaturan dan Pengawasan Aset Keuangan Digital termasuk Aset Kripto serta Derivatif Keuangan kepada OJK dan BI, bertanggal 10 Januari 2025, dengan foto acara penandatanganan berita acara serah terima
Siaran pers bersama di situs OJK tentang peralihan pengawasan aset kripto dari Bappebti ke OJK pada 10 Januari 2025. Tangkapan layar: ojk.go.id (tab baru), diambil 21 Oktober 2026 untuk keperluan ulasan.

Siaran pers yang sama menyebut dasar hukumnya, yaitu Undang Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) dan Peraturan Pemerintah Nomor 49 Tahun 2024. Derivatif keuangan dengan aset dasar di pasar uang dan valuta asing dialihkan ke Bank Indonesia.

Apa artinya bagi pemilik usaha? Kalau website atau aplikasi Anda menerima pembayaran kripto, memperdagangkan token, atau menawarkan produk berbasis aset kripto, Anda masuk ke wilayah yang diatur. Konsultasikan dengan penasihat hukum dan cek ketentuan terbaru di situs resmi OJK sebelum meluncurkan fitur seperti itu. Untuk website biasa yang hanya membahas atau memberi informasi, aturan ini tidak otomatis berlaku.

Apakah usaha Anda membutuhkan website Web3?

Ini pertanyaan yang paling sering kami dengar. Jawabannya untuk sebagian besar usaha: belum. Tabel berikut membantu Anda menilai sendiri.

Tabel ini lebih lebar dari layar. Geser ke samping untuk melihat seluruh kolom.

Kebutuhan usaha dan teknologi yang cocok
KebutuhanWebsite biasaWeb3
Profil usaha, layanan, dan kontakCocokTidak perlu
Toko online dengan transfer bank, e-wallet, atau kartuCocokTidak perlu
Landing page iklan dan pengumpulan prospekCocokTidak perlu
Komunitas dengan keanggotaan berbasis tokenBisa, dengan sistem login biasaRelevan
Penerbitan aset digital yang bisa diperjualbelikan penggunaTerbatasRelevan, dengan memperhatikan regulasi
Catatan transaksi publik yang tidak bisa diubahTerbatasRelevan

Kalau kebutuhan Anda ada di tiga baris pertama, fokuskan anggaran pada website yang cepat, jelas, dan mudah ditemukan. Panduan memilih jenis website ada di artikel aplikasi website dan WordPress atau website custom. Untuk toko online, lihat cara membuat toko online.

Langkah aman kalau ingin mencoba Web3

Kalau bisnis Anda memang bersinggungan dengan aset digital, atau Anda sekadar ingin memahami cara kerjanya, berikut urutan yang lebih aman:

  1. Pelajari konsep dari sumber resmi, misalnya halaman edukasi ethereum.org, sebelum membeli atau memasang apa pun.
  2. Tentukan masalah bisnis yang ingin diselesaikan. Kalau masalahnya bisa diselesaikan website biasa, jangan memaksakan blockchain.
  3. Cek regulasi di situs resmi OJK, terutama bila menyangkut pembayaran atau perdagangan aset kripto.
  4. Uji di jaringan percobaan (testnet) sebelum memakai aset sungguhan.
  5. Libatkan pengembang berpengalaman untuk smart contract, karena kode yang sudah terbit tidak bisa diubah. Gambaran peran pengembang ada di artikel web developer adalah.
  6. Siapkan jalur biasa untuk pelanggan, misalnya pembayaran transfer bank, supaya pelanggan yang belum memahami kripto tetap bisa bertransaksi.

Satu hal yang tidak berubah di Web3: pengunjung tetap datang lewat browser dan alamat web. Pemahaman dasar tentang protokol untuk mengakses halaman web dan hosting dan domain tetap berguna, karena antarmuka dApp pun perlu di-host dan diberi alamat. Cara menyusun dan membagikan alamat itu dibahas di artikel link website.

Kesimpulan

Web 3 adalah gagasan internet yang memakai blockchain, smart contract, dompet kripto, dan token untuk memberi pengguna kepemilikan atas data dan aset digitalnya. Dibanding Web 1.0 yang hanya dibaca dan Web 2.0 yang bisa ditulis, Web3 menambahkan unsur memiliki. Namun pendukungnya sendiri mengakui masih ada hambatan biaya, kemudahan, dan edukasi.

Bagi sebagian besar pemilik usaha, website biasa yang cepat, aman, dan jelas tetap menjadi pilihan terbaik. Web3 layak dipertimbangkan hanya bila bisnis Anda memang membutuhkan kepemilikan aset digital atau catatan publik, dan selalu dengan memperhatikan aturan OJK. Kalau Anda sedang merencanakan website baru, mulai dari panduan cara bikin website.

Sumber

Ditulis dan diperiksa oleh tim studio

Studio pembuatan website di Yogyakarta. Cara kami menulis: setiap klaim faktual disertai sumber yang bisa Anda buka sendiri, harga yang dikutip dicatat bersama tanggal pengecekannya, dan artikel diperiksa ulang bila sumbernya berubah.

Tanya jawab

Pertanyaan yang sering masuk

Web 3 adalah apa?

Web 3 atau Web3 adalah gagasan generasi internet berikutnya yang memakai blockchain, aset kripto, dan token untuk memberi pengguna kepemilikan atas data dan aset digitalnya. Ethereum.org merangkumnya dengan rumus Web1 untuk membaca, Web2 untuk membaca dan menulis, dan Web3 untuk membaca, menulis, dan memiliki.

Apa beda Web 1.0, Web 2.0, dan Web3?

Menurut ethereum.org, Web 1.0 (kira kira 1990 sampai 2004) berisi website statis yang hanya dibaca. Web 2.0 (sejak 2004) memungkinkan pengguna membuat konten lewat media sosial, tetapi platform besar menguasai data dan nilainya. Web3 menambahkan kepemilikan lewat blockchain dan token.

Siapa yang mencetuskan istilah Web3?

Ethereum.org menyebut gagasan Web 3.0 dalam pengertian ini dicetuskan oleh salah satu pendiri Ethereum, Gavin Wood, tidak lama setelah Ethereum diluncurkan pada 2014.

Apa itu smart contract?

Smart contract adalah program komputer yang disimpan di blockchain dan berjalan dengan logika jika ini maka itu. Ethereum.org menyebut smart contract dijamin berjalan sesuai aturan di kodenya dan tidak bisa diubah setelah dibuat. Istilahnya dicetuskan Nick Szabo pada 1994.

Apakah website usaha saya perlu dibuat dengan Web3?

Hampir selalu tidak. Website company profile, toko online, dan landing page tetap paling cocok memakai teknologi web biasa. Web3 baru relevan kalau bisnis Anda memang bergerak di aset digital, komunitas berbasis token, atau membutuhkan catatan transaksi publik yang tidak bisa diubah.

Siapa yang mengawasi aset kripto di Indonesia?

Sejak 10 Januari 2025, tugas pengaturan dan pengawasan aset keuangan digital termasuk aset kripto beralih dari Bappebti Kementerian Perdagangan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dasar hukumnya UU Nomor 4 Tahun 2023 (UU P2SK) dan PP Nomor 49 Tahun 2024, menurut siaran pers bersama OJK dan Bappebti.

Apa kekurangan Web3 saat ini?

Ethereum.org sendiri mencatat beberapa keterbatasan: biaya transaksi yang masih memberatkan bagi banyak orang, hambatan teknis yang tinggi karena pengguna harus memahami keamanan dan antarmuka yang belum ramah, serta kebutuhan edukasi yang luas sebelum diadopsi massal.

Apakah dApp bisa dibuka seperti website biasa?

Ya. dApp atau aplikasi terdesentralisasi biasanya tetap berupa antarmuka web yang dibuka di browser. Bedanya, tombol dan formulirnya terhubung ke smart contract di blockchain, dan pengguna masuk memakai dompet kripto, bukan email dan kata sandi.

Langkah berikutnya

Kerjakan sendiri dulu, daftar periksanya kami buka

Artikel ini ditulis untuk dipakai, bukan untuk menggiring Anda memesan. Pakai daftar periksa 10 poin yang kami centang sebelum serah terima untuk menguji hasil Anda. Kalau ada satu langkah yang mandek, tanyakan lewat WhatsApp tanpa kewajiban lanjut. Kalau suatu saat hitungan waktunya tidak masuk, harga dan total tiga tahun kami terbuka tanpa perlu chat lebih dulu.

  • Domain dan akun atas nama Anda
  • Harga final sampai tahun ketiga
  • Tanggal tayang mengikat
  • Lembar Cakupan dikirim sebelum Anda bayar
Chat WhatsApp (membuka WhatsApp di tab baru) Lihat harga